Senin, 30 Desember 2013

Hasil Ujian Saringan Masuk (Try Out) Tahun 2014 – Universitas Esa Unggul

http://www.esaunggul.ac.id/future-student/hasil-ujian-saringan-masuk-try-out-tahun-2014-universitas-esa-unggul/

Share


Jakarta
SMA
  1. SMA Cengkareng 1 Jakarta Barat
  2. SMA Negeri 16 Jakarta Barat
  3. SMA Negeri 19 Jakarta Barat
  4. SMA Negeri 20 Jakarta Pusat
  5. SMA Negeri 23 Jakarta Barat
  6. SMA Negeri 56 Jakarta Barat
  7. SMA Negeri 57 Jakarta Barat
  8. SMA Negeri 84 Jakarta Barat
  9. SMA Negeri 94 Jakarta Barat
  10. SMA Negeri 95 Jakarta Barat
  11. SMA Negeri 96 Jakarta Barat
  12. SMA Negeri 101 Jakarta Barat
  13. SMA Negeri 112 Jakarta Barat
  14. SMA Negeri 111 Jakarta Utara
  15. SMA Tunas Harapan Jakarta Barat
  16. SMA Harapan Jaya Jakarta Barat
  17. SMA Yadika 1 Jakarta Barat
  18. SMA Yadika 2 Jakarta Barat
  19. SMA Yadika 5 Joglo Jakarta Barat
  20. SMA YP BDN Jakarta Barat
  21. SMA Lamaholot Jakarta Barat
  22. SMA AL Kamal Jakarta Barat
  23. SMA Al Huda Jakarta Barat
  24. SMA  1 Barunawati Jakarta Barat
  25. SMA Bintang Kejora Jakarta Barat
  26. SMA Budi Murni Jakarta Barat

SMK
  1. SMK Cengkareng 1 Jakarta Barat
  2. SMK Negeri 42 Jakarta Barat
  3. SMK Negeri 60 Jakarta Barat
  4. SMK Tunas Harapan Jakarta Barat
  5. SMK Harapan Jaya Jakarta Barat
  6. SMK Muhammadiyah 4 Jakarta Barat
  7. SMK Jakarta 1 Jakarta Barat
  8. SMK Yadika 1 Jakarta Barat
  9. SMK Yadika 3 Jakarta Barat
  10. SMK Negeri 27 Jakarta Pusat
  11. SMK Satria Jakarta Barat
  12. SMK Lamaholot Jakarta Barat
  13. SMK Dewi Sartika Jakarta Barat
  14. SMK Assadatul Abadiyah Jakarta Barat
  15. SMK AL Chasanah Jakarta Barat
  16. SMK Mutiara Bangsa Jakarta Barat

Tangerang
SMA
  1. SMA Negeri 1 Tangerang
  2. SMA Negeri 1 Kabupaten Tangerang
  3. SMA Negeri 2 Tangerang
  4. SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang
  5. SMA Negeri 4 Kabupaten Tangerang
  6. SMA Negeri 4 Tangerang
  7. SMA Negeri 5 Kabupaten Tangerang
  8. SMA Negeri 5 Tangerang
  9. SMA Negeri 6 Tangerang
  10. SMA Negeri 6 Kabupaten Tangerang
  11. SMA Negeri 8 Kabupaten Tangerang
  12. SMA Negeri 8 Tangerang
  13. SMA Negeri 10 Tangerang
  14. SMA Negeri 11 Tangerang
  15. SMA Negeri 12 Tangerang
  16. SMA Negeri 14 Tangerang
  17. SMA Negeri 15 Kabupaten Tangerang
  18. SMA Negeri 18 Kabupaten Tangerang
  19. SMA Negeri 28 Kabupaten Tangerang
  20. SMA Nusa Putra Putra Tangerang
  21. SMA Yadika 3 Tangerang
  22. SMA Yadika 6 Kabupaten Tangerang
  23. SMA Yuppentek 1 Tangerang
  24. SMA Yuppentek 4 Tangerang
  25. SMA Islamic Village Tangerang
  26. SMA Islamic Centre Tangerang
  27. SMA Mandiri Balaraja Kabupaten Tangerang
  28. SMA Nusantara 1 Tangerang
  29. SMA Manbaul Ulum Tangerang

SMK
  1. SMK Negeri 1 Tangerang
  2. SMK Mandiri 2 Balaraja KabupatenTangerang
  3. SMK Yuppentek 1 Tangerang
  4. SMK Yuppentek 7 Tangerang
  5. SMK Islamic Village Kabupaten Tangerang
  6. SMK Yadika 4 Tangerang
  7. SMK Yadika 5 Tangerang Selatan
  8. SMK Panca Karya Tangerang
  9. SMK Bonavita Tangerang
  10. SMK Nusa Putra Tangerang

MADRASAH ALIYAH
  1. MAN 1 Tangerang

Jumat, 28 Oktober 2011

Konsep Dasar Bimbingan Belajar


1. Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.

2. Latar Belakang Bimbingan Belajar
Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar belakang. Demikian pula halnya dengan layanan bimbingan belajar. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatar belakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
1. Adanya criterion referenced evaluation yang mana mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai pelajaran. Dan kualifikasi itu, antara lain :
a. Siswa yang benar-benar dapat meguasai pelajaran.
b. Siswa yang cukup menguasai pelajaran.
c. Siswa yang belum dapat menguasai pelajaran.
2. Adanya kemampuan/tingkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh tiap siswa yang mana berbeda dengan siswa yang lainnya. Dimana klasifikasi siswa tersebut antara lain :
a. Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
b. Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya.
c. Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dai apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
3. Adanya penerapan waktu untuk menyelesaikan suatu program belajar. Dan klasifikasi siswa dalam hal ini antara lain :
a. Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat dari waktu yang disesuaikan.
b. Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang telah disesuaikan.
c. Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4. Adanya penggunaan norm referenced yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Dan klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
a. Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
b. Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar nilai rata-rata dari kelompoknya.
c. Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
Setelah mengetahui begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukanlah suatu bentuk layanan bimbingan belajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan dalam kegiatan belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar sangat diperlukan oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan belajar.

3. Jenis Layanan Bimbingan Belajar dalam Kaitannya dengan PBM
Seorang guru dalam memberikan layanan bimbingan belajar harus tetap berporos pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu jenis layanan bimbingan belajar yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar. Maka jenis layanan bimbingan belajar dalam konteks Proses Belajar Mengajar yang dapat dan seyogianya dijalankan oleh para guru, antara lain :
a. Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa
b. Memberikan informasi mengenai berbagai kemungkinan jenis program dan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa.
c. Menempatkan siswa dengan kelompok belajar yang sesuai
d. Memberikan program belajar yang sesuai
e. Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
f. Membuat rekomendasi tentang kemungkinan usaha selanjutnya
g. Melakukan remedial teaching
4. Prosedur dan Strategi Layanan Bimbingan Belajar
a. Prosedur Umum Layanan Bimbingan Belajar
Suatu layanan bimbingan belajar, pada umumnya memiliki beberapa tahap dalam kegiatannya, antara lain :
1) Identifikasi Kasus
Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi siswa yang memerlukan bimbingan. Ada kalanya siswa datang langsung pada guru pembimbing untuk diberi bimbingan mengenai suatu permasalahan dalam belajar yang sedang dihadapinya. Namun, ada kalanya pula, siswa enggan untuk mendatangi guru pembimbingnya dikarenakan beberapa alasan. Maka, diperlukan suatu upaya lebih dari guru pembimbing untuk dapat memberikan bimbingan pada siswa yang benar-benar membutuhkan bimbingan, namun enggan untuk meminta bimbingan. Dan cara yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing dalam memberikan bimbingan motivasi kepada siswa tersebut, antara lain :
(a) Call them approach
Langkah untuk memanggil setiap siswa yang ada dan melakukan wawancara face to face, maka akan diperoleh siswa yang perlu dibimbing.
(b) Maintan good relations
Langkah ini dikenal juga sebagai open door policy, yang mana diciptakan berbagai cara tidak langsung untuk memperkenalkan berbagai jenis layanan yang akan diberikan guru pembimbing untuk membantu siswanya yang tidak hanya terbatas pada hubungan belajar-mengajar di kelas saja.
(c) Developing a desire for conseling
Langkah ini dilakukan jika siswa tidak menyadari akan masalah belajar yang dialaminya, maka dilakukanlah cara:
(1) mengadiministrasikan tes inteligensi, bakat, minat, pretest atau post test dan sebagainya.
(2) mengadakan orientasi studi yang membicarakan dan memperkenalkan karakteristik perbedaan individual serta implikasinya bagi cara belajar-mengajar.
(3) mengadakan diskusi tentang suatu masalah tentang kesulitan belajar.
(d) Lakukan analisis terhadap prestasi belajar siswa mengenai beberapa siswa yang menunjukkan kelainan-kelainan tertentu.
(e) Lakukan analisis sosiometris dengan memilih temantedekat di antara sesama siswa.
2) Identifikasi Masalah
Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi permalsahan yang dihadapi oleh setiap siswa. Dalam konteks PBM, permasalahannya dapat dialokalisasi dan dibatasi dengan ditinjau dari tujuan proses belajar-mengajar:
(a) Secara substansial-material, hendaknya dialokalisasi pada jenis bidang studi mana saja.
(b) Secara struktural-fungsional, permasalahan itu mungkin dapat dialokasikan pada salah satu jenis dan tingkat kategori belajar proses-proses mental dari delapan kategori belajar menurut Gagne.
(c) Secara behavioral, permasalahan mungkin terletak pada salah satu jenis dan tingkat perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
(d) Mungkin terletak pada salah satu atau beberapa aspek kepribadian siswa.
3) Diagnosis
Dalam konteks PBM, kemungkinan faktor penyebab permasalahan yaitu terletak pada :
(a) raw input
(b) instrumental input
(c) enviromental input
(d) tujuan pendidikan
Cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh informasi yang relevan dengan kemungkinan faktor penyebab permasalahan di atas, antara lain:
(a) Untuk mendeteksi raw input, perlu diadakan tes psikologi, skala penilaian sikap, wawancara bimbingan dengan yang bersangkutan, inventory, dan sebagainya.
(b) Untuk mendeteksi instrumental input, perlu dilakukan review terhadap komponen-komponen sistem instruksional yang bersangkutan dengan diadakan wawancara dan studi dokumeneter.
(c) Untuk mendeteksi enviromental input, perlu dilakukan observasi dengan analisis anecdotal records, kunjungan rumah, wawancara dengan yang bersangkutan.
(d) Untuk mendeteksi tujuan-tujuan pendidikan, perlu dilakukan analisis rasional, wawancara, dan studi dokumenter.

4) Mengadakan Prognosis
Langkah ini dilakukan setelah beberapa langkah sebelumnya telah dilakukan, dan memberikan hasil. Selanjutnya, dapat diperkirakan tentang cara mana yang mungkin dilakukan. Proses pengambilan keputusan pada tahap ini seyogianya tidak dilakukan secara tergesa-gesa, dan sebaiknya melalui serangkaian konferensi kasus.

5) Melakukan Tindakan Remedial atau Membuat Referral (Rujukan)
Jika jenis permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan lingkungan belajar-mengajar dan guru masih sanggup mengatasi, maka perlu dilakukan tindakan remedial. Namun, jika permasalahannya sudah menyangkut aspek lain yang lebih luas lagi, maka seorang guru perlu segera melakukan referral pada ahli yang kompeten di bidangnya.

6) Evaluasi dan Follow Up
Langkah apapun yang telah ditempuh oleh seorang guru, langkah evaluasi atas usaha pemecahan masalah tersebut seyogianya dilakukan.
b. Strategi Layanan Bimbingan Belajar
Ada dua cara pendekatan dalam menggariskan strategi layanan bimbingan, yaitu :
1. Berdasarkan jenis dan sifat kasus yang dihadapinya
Sesuai dengan sifat permasalahannya, layanan bimbingan dapat diberikan kepada siswa sebagai individual dan dapat pula diberikan kepada individu dalam kelompok.
o Layanan bimbingan kelompok, diselenggarakan bila :
(1) Terdapat sejumlah individu yang mempunyai permasalahan yang sama.
(2) Terdapat masalah yang dialami oleh individu, namun perlu adanya hubungan dengan orang lain.
Layanan bimbingan ini dapat dilakukan dengan cara:
(1) Formal, seperti : diskusi, ceramah, remedial teaching, sosiodrama, dan sebagainya.
(2) Informal, seperti : rekreasi, karyawisata, student self government, pesta olah raga, pentas seni, dan sebagainya.
o Layanan bimbingan individual
Layanan ini dapat digunakan jika permasalahan yang dihadapi individu itu lebih bersifat pribadi dan memerlukan beberapa proses yang mana dapat dilakukan oleh guru atau ahli psikolog. Mungkin juga orangtua yang bersangkutan yang akan melakukannya.
2. Berdasarkan Ruang Lingkup Permasalahan dan Pengorganisasiannya
Mathewson mengidentifikasi tiga strategi umum penyelenggaraan layanan bimbingan, sebagai berikut :
a) The strategy guidence thoughout the classroom
Dalam strategi bimbingan melalui kelas ini, ada slogan yang berbunyi “Every teacher is a guidance worker”, yang artinya bahwa setiap guru adalah petugas bimbingan. Slogan ini menjiwai seluruh pemikiran dan praktik layanan sehingga bimbingan dapat selalu terlaksana.
b) The strategy of guidance throughout supplementary services
Dalam strategi bimbingan melalui layanan khusus yang bersifat suplementer ini dapat dilakukan oleh petugas khusus yang ditujukan guna mengatasi masalah pokok secara terpilih. Strategi ini merupakan pola layanan bimbingan pendidikan dan vokasional.
c) The strategy of guidance as a comprehensive process trhoughtout the whole curriculum and community
Dalam strategi bimbingan sebagai suatu proses yang komprehensif melalui kegiatan keseluruhan kurikulum dan masyarakat inimelibatkan semua komponen personalia sekolah, siswa, orangtua, dan wakil-wakil masyarakat. Strategi ini memerlukan fasilitas yang lebih lengkap dan menuntut terciptanya suatu kerja sama yang harmonis di antara semua komponen yang terlibat.

7. Sistem dan Teknik Layanan Bimbingan
a. Beberapa Sistem Pendekatan Layanan Bimbingan
Dalam buku berjudul Counseling and Psychotherapy, Rogers mengemukakan dua pendekatan layanan bimbingan, yaitu:
1) Pendekatan Direktif
adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi pusatnya yaitu konselor, bukan klien.
Dalam pendekatan ini, Wiliamson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
o Anak yang belum matang mendiagnosis sendiri, sukar memecahkan masalah yang dihadapinya tanpa bantuan pihak lain.
o Anak yang berkesulitan, walaupun telah diberi arahan untuk melakukan sesuatu agar dapat mengatasi masalahnya, tetap saja tidak berani melakukannya.
o Mungkin ada masalah yang berat untuk dipecahkan oleh anak tanpa bantuan orang lain.
2) Pendekatan Non-Direktif
adalah suatu proses pendekatan yang mana yang menjadi pusatnya yaitu klien, bukan konselor.
Dalam pendekatan ini, Cart Rogers mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Tiap individu mempunyai kemampuan yang besar untuk menyesuaikan diri serta mempunyai dorongan yang kuat untuk berdiri sendiri.
Pembimbing hanya sebagai pengantar dan membantu klien dalam menciptakan suasana damai.
3) Pendekatan Eclective
Dalam pendekatan ini, FP Robinson mengemukakan beberapa alasan dilakukannya pendekatan ini, antara lain:
Masalah dan situasi penyuluh selalu berbeda yang tak terbatas pada satu bidang kehiudpan.
Langkah-langkah pembimbing harus selalu disesuaikan dengan keperluan yang dituntut oleH situasi bimbingan.
b.  Teknik Layanan Bimbingan Belajar
Ada beberapa teknik layanan bimbingan yang dapat dilakukan oleh seorang guru pembimbing, yaitu antara lain:
Menghimpun data dan informasi mengenai individu yang bersangkutan.
Menciptakan hubungan yang baik dengan klien serta memberikan
informasi yang meyakinkan dan memberikan pilihan rencana yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalahnya.

Membimbing Kesulitan Belajar Siswa


Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa: (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.

1. Tujuan pendidikan
Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar.

2. Kedudukan dalam Kelompok
Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.
Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group. Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar.

3. Perbandingan antara potensi dan prestasi
Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah underachiever.

4. Kepribadian
Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah, emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.
B. Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :
Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

2. Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.

3. Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.
4. Prognosis
Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.

5. Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

6. Evaluasi dan Follow Up
Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :
  • Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
  • Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan
  • Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
  • Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:
  • Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
  • Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
  • Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
  • Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
  • Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
  • Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
  • Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya

Ini sedikit pengalaman dan sharing tentang pembelajaran di bimbingan belajar di mana penulis pernah menjadi pengajar di salah satu bimbingan belajar. Semoga dari pengalaman ini bisa diambil pelajaran dan perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan di masa datang.
Pada prinsipnya, pembelajaran di kelas-kelas Bimbingan belajar dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan siswa terampil dalam mengerjakan soal-soal ujian. Pembelajaran dilakukan dengan fokus bagaimana siswa dapat mengerjakan soal dengan mudah dan cepat.
Materi pelajaran diberikan secara singkat dan padat. Dalam mencapai target materi yang sangat padat biasanya kelas-kelas di bimbingan belajar tersedia proyektor sebagai alat Bantu. Pembelajaran semacam ini mungkin sesuai untuk program intensif dalam menghadapi ujian masuk PTN maupun untuk kelas yang dirancang khusus untuk mempersiapkan siswa mengikuti ujian masuk PTN.
Akan tetapi pembelajaran yang berbeda harus dilakukan untuk kelas regular di mana pemahaman terhadap materi pelajaran tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang berbeda antara pembelajaran program regular dan program intensif. Pemisahan semacam inilah yang belum disadari dalam penyelenggaraan bimbingan belajar yang ada.
Jika dilihat dari sudut pandang metode belajar modern yang berkembang saat ini maka pembelajaran yang berlangsung di bimbingan belajar (khususnya pada program regular), meskipun telah dirancang sedemikian rupa agar tidak membosankan, pada dasarnya dapat digolongkan sebagai berikut.
Pembelajaran berpusat pada guru/pengajar (teacher centered learning) bukan pembelajaran berpusat aktivitas (activity driven learning). Menurut penelitian pembelajaran lebih efektif melalui pengalaman dan dengan siswa langsung berinteraksi dengan bahan yang sedang dipelajari. Pembelajaran di bimbingan belajar masih menempatkan guru sebagai pemberi materi dan siswa dianggap sebagai wadah yang harus diisi dengan ilmu.
Pembelajaran berbasis media tunggal (single-media based learning) bukan pembelajaran berbasis multimedia (multimedia based learning). Multimedia di sini bukan berarti komputer yang dilengkapi multimedia. Tetapi, multimedia adalah penggunaan berbagai macam media yang dapat memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Selama ini dianggap dengan menggunakan alat Bantu proyektor seorang pengajar merasa telah menggunakan media belajar. Padahal penggunaan proyektor hanya memanfaatkan media tunggal yang efektivitasnya lebih rendah dibanding multimedia.
Pembelajaran berbasis pada isi (content based learning) bukan pembelajaran berbasis konteks (context based learning). Materi pelajaran yang akan di kelas bimbingan belajar biasanya telah terjadwal dan tiap materi harus selesai pada tiap pertemuan. Setiap siswa dianggap sama dalam menyerap pelajaran sehingga materi akan diselesaikan sesuai jadwal sehingga selesainya materi dianggap juga dengan pahamnya siswa terhadap materi yang sudah disampaikan. Padahal setiap siswa berbeda dalam menyerap pelajaran dan merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab apabila kita menganggap selesainya materi juga berarti seluruh siswa memahami materi yang diberikan.
Pelaksanaan pembelajaran seperti yang disebutkan di atas dilakukan pada dasarnya juga tidak diharapkan dan bukan merupakan suatu kesengajaan. Keterbatasan-keterbatasan yang menyertai kegiatan bimbingan belajar menjadi alasan timbulnya kesan seperti di atas. Penyelenggara bimbingan belajar harus berani mengakui bahwa bimbingan belajar bukanlah tempat untuk belajar yang sesungguhnya.
Kebanyakan siswa masih menganggap bimbingan belajar hanya sebagai selingan pengisi kegiatan di luar sekolah. Waktu belajar di bimbingan belajar bukanlah waktu utama siswa untuk belajar. Dengan kondisi demikian metode belajar secanggih apa pun tidak akan efektif diterapkan di kelas-kelas bimbingan belajar.
Keadaan yang tidak kondusif ini diperparah dengan kapasitas siswa per kelas yang tidak mendukung terciptanya suasana belajar yang efektif. Rata-rata jumlah siswa per kelas (menurut pengamatan penulis) tidak kurang dari 35 orang.
Jika dibandingkan dengan di sekolah saja jumlah ini terlalu besar. Jumlah siswa sebesar ini bukanlah jumlah yang diharapkan bagi sebuah kelas yang ingin melaksanakan proses pembelajaran yang efektif. Sebuah kelas bimbingan belajar tidak selayaknya diisi oleh begitu banyak siswa dengan berbagai macam watak dan karakter dan dalam kondisi tidak begitu siap untuk belajar.
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa metode belajar secanggih apa pun tidak akan bisa diterapkan dalam kondisi semacam ini. Selain itu kapasitas kelas yang demikian besar tidak mencerminkan keinginan penyelenggara bimbingan belajar untuk memberikan pelayanan yang memuaskan buat konsumen.
Kondisi kelas di bimbingan belajar seperti yang disebutkan di atas akhir-nya dapat membawa efek negatif yang tidak diharapkan. Dilihat dari sudut pandang siswa kelas-kelas di bimbingan belajar menjadi tidak kondusif untuk melakukan kegiatan belajar. Akibatnya belajar menjadi tidak efektif.
Hal ini juga menyebabkan kegiatan belajar dalam kondisi ini membuang-buang waktu dan tenaga karena tidak ada hasilnya sama sekali. Kenyataan ini membuat kita bertanya-tanya jadi apa yang telah kita lakukan selama ini? Apa yang telah kita berikan kepada siswa kita? Apa peran kita terhadap prestasi belajar siswa?
Selanjutnya apabila dilihat dari sudut pandang pengajar kondisi belajar yang tidak kondusif membuat pengajar tidak berkembang kapasitasnya dan menimbulkan keterpaksaan dalam menyampaikan materi. Pengajar menjadi tidak bersungguh-sungguh mengajar atau tidak ikhlas dan bahkan bisa sampai pada tingkat mengajar hanya untuk mengejar honor saja (naudzubillah min dzalik).
Tanpa menafikan berbagai hambatan yang menyertai penyelenggaran bimbingan belajar tidak ada alasan untuk membiarkan begitu saja sistem pembelajaran di bimbingan belajar terus berlangsung dalam keadaan seperti ini. Penyelenggara bimbingan belajar tidak boleh berdiam diri dan menutup mata terhadap kenyataan yang ada bila tidak mau menciptakan ironi dalam pendidikan, yaitu keinginan untuk mencerdaskan siswa berubah menjadi membodohi siswa.

Dengan menjamurnya bimbel di tengah masyarakat ,maka kami memberikan beberapa langkah untuk menentukan ,bagaimana cara memilih bimbel? Dengan munculnya bimbel yang mengaku sebagai bimbel terbaik ,tentu membingungkan siswa atau orang tuanya ,yang sungguh sungguh pingin supaya anaknya berprestasi. Kami sebagai penyelenggara bimbingan belajar tentu ingin merubah citra bimbel di masyarakat yang saat ini di anggap sebagai lahan bisnis yang menggiurkan. Pandangan ini membuat imige bimbel menjadi bergeser kearah negatif.
Gama inter studi sebagai lembaga yang terdiri dari sekelompok orang yang berprofesi sebagai guru dan Dosen merasa peduli ,atas munculnya bimbel yang semata mata hanya memandang dari sudut bisnisnya saja. kami bertekad membuat bimbingan belajar atas dasar prestasi dan menjaga kualitas materi pelajaran dengan menciptakan system pembelajaran yang menyenangkan ,sehingga mudah di pahami siswa/siswi. Dengan konsep 5 S yaitu senyum , salam, sopan ,sabar dan smart siswa menjadi nyaman ,dan orang tua percaya menaruh putra-putrinya di tempat kami.
Konsep 5 P ,Sebagai pondasi kami dalam mempertahankan kualitas yaitu Product unggul, Performance yang menarik, Personality yang terpuji , Price yang mempunyai nilai tambah, dan Promotion yang muncul dari konsumen (siswa) atas dasar kepuasan. Dengan konsep ini kami bersaing di masayarakat untuk merebut hati siswa ,walaupun siswa dan orang tua terkadang terbius oleh nama besar bimbel yang belum tentu sesuai dengan nama besar tesebut,karena pengawasan jauh dari kantor pusat, dan tutor biasanya tidak jauh dari lokasi bimbel itu sehingga akan mempengaruhi kualitas bimbel.
Kami memberikan cara memilih bimbel yaitu:
  • Mencari bimbel pusat karena pengawasan dan tutor lebih berkualitas.
  • Ratio Tutor antara guru formal dan informal karena mempengaruhi materi dan kurikulum.
  • Lokasi tidak jauh dari tempat tinggal
  • Jaminan yang di berikan oleh bimbel itu yang berhubungan dengan kualitas materi.
  • Jangan tergiur oleh hadiah-hadiah bila mengikuti bimbel,karena niat belajar tidak baik di dorong oleh cara begitu, kecuali mendapat prestasi setelah mengikuti bimbel.
  • Tulisan ini sebagai tambahan refrensi dalam memilih bimbingan belajar. Kami hanya menawarkan solusi bahwa kami memberikan yang terbaik untuk putra putri anda.

STRATEGI BIMBINGAN BELAJAR BAGI SISWA DI SEKOLAH

Kehidupan siswa merupakan kegiatan yang unik dengan segala lika-likunya, dalam kehidupanya siswa selalu berhadapan dengan masalah masalah yang menuntutnya untuk dapat menyelesaikannya denga baik agar dia dapat terus bergerak maju menuju perubahan yang lebih baik.
Permasalahan yang dialami siswa terkadang, dapat diselesaikan sendiri oleh siswa yang bersangkutan, tapi suatu saat mereka juga berkemungkinan unruk tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Sehingga dibutuhkanlah bantuan baik dari teman, orang tua, guru maupun konselor.
Konselor dalam hal ini adalah orang yang di dalam lembaga sekolah memiliki tugas yang langsung berkaitan dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang dialami siswa. Dalam melakukan tugasnya tersebut konselor perlu menggunakan strategi yang jitu agar dapat membantu secara optimal dan tugasnyapun dapat terselesaikan dengan baik.
Dalam makalah ini penulis berusaha untuk memaparkan seputar strategi bimbingan belajar siswa di sekolah, kiranya tulisan ini bermanfaat baik bagi diri penulis sendiri dan juga semoga bermanfaat bagi kalangan yang lebih luas.

PENGERTIAN
Sebelum membahas lebih lanjut tentang strategi bimbingan belajar bagi siswa di sekolah kita perlu juga  mengetahui beberapa pengertian dari strategi, bimbingan, bimbingan belajar, strategi bimbingan belajar dan siswa di sekolah ,dari pendapat para ahli yang akan saya uraikan sebagai berikut:
Strategi adalah: rencana yang cermat menyangkut kegiatan untuk mencapai sasaran.
Bimbingan adalah: menurut Frank Miller (1961), bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai pemahaman diri dan arah diri terutama untuk membuat penyesuaian tehadap sekolah, keluarga dan masyarakat umum.
Bimbingan belajar adalah: proses membantu kegiatan belajar kepada siswa baik secara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan (prestasi  belajar) secara optimal.
Strategi bimbingan belajar adalah: suatu upaya berencana yang cermat dalam kegiatan bimbingan belajar untuk meningkatkan aktivitas belajar dan mengentas permasalahan yang menganggu, sehingga prestasi belajarnya meningkat dan optimal (sukses akademik).
Siswa di sekolah adalah: subyek inividu yang ikut serta alam proses belajar yang kegiatannya dilaksanakan dalam lembaga yang formal (sekolah).
Dari pengertian yang terpotong-potong di atas maka penulis dapat mensintesiskan bahwa pengertian dari strategi bimbingan belajar siswa di sekolah merupakan suatu upaya yang berencana dan cermat yang dilakukan dalam kegiatan bimbingan belajar  untuk meningkatkan aktivitas belajar dan mengentas permasalahan yang menganggu, sehingga prestasi belajar inividu yang ikut serta alam proses belajar yang kegiatannya dilaksanakan dalam lembaga yang formal (sekolah). meningkat dan optimal (sukses akademik)

TUJUAN
Adapun tujuan dari adanya  strategi bimbingan belajar itu sendiri adalah:
siswa dapat memahami tentang dirinya sendiri, khususnya pada kemampuan belajarnya.
Siswa dapat memperbaiki cara belajarnya ke arah yang lebih efektif dan efisien.
Siswa dapat mengatasi berbagai macam kesulitan belajarnya.
Siswa dapat mengembangkan sikap, kebiasaan, dan tingkah laku yang lebih baik, khususnya yang berkaitan tentang belajarnya. dapat tampil dalam melaksanakan kegiatan belajar dan dapat mencapai prestasi belajar yang optimal.

PERMASALAHAN BELAJAR BAGI SISWA
Ada berbagai permasalahan belajar bagi siswa yang berakibat pada prestasi belajar siswa menurun atau tidak dapat mencapai tujuan belajar yang optimal. Adapun permasalahan belajar yang dihadapi siswa antara lain:
  • Siswa mngalami kesulitan dalam mempersiapkan kondisi fisik dan psikisnya.
  • Siswa tidak dapat mempersiapkan bahan dan peralatan sekolahnya.
  • Sarana dan prasarana di perpustakaan kurang menunjang.
  • Pralatan di laboratorium kurang lengkap, sehingga tidak dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan pelajaran.
  • Siswa tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan pertanyaan atau pernyataan dalam proses pembelajaran.
  • Siswa sering melanggar kedisiplinan kehadiran di sekolah, misalnya sering datang terlambat, sering tidak masuk sekolah.
  • Malas mencatat mata pelajaran.
  • Tidak menindak lanjuti proses belajar mengajar.
  • Tidak bergairah atau termotivasi dalam belajar.
  • Tidak gemar belajar secara beekelanjutan.
  • Siswa tidak melaksanakan belajar, dan diskusi kelompok.
  • Tidak bergairah dalam melaksanakan tugas atau latihan mata pelajaran.
  • Siswa malas berkonsultasi dengan guru.
  • Pelayanan guru bidang studi dalam proses belajar mengajar kurang merangsang semangat belajar siswa.
D. MACAM-MACAM BIMBINGAN BELAJAR
Ada beberapa macam bimbingan belajar yaitu:
Bimbingan belajar dengan cara yang efisien.
Bimbingan belajar dengan cara mmbaca buku.
Bimbingan belajar dengan cara mengikuti pelajaran.
Bimbingan belajar dengan cara menyiapkan diri untuk ujian.

E. PENDEKATAN BIMBINGAN BELAJAR.
Ada beberapa macam pendekatan yang dapat dilaksanakan dalam bimbingan belajar, antara lain:
Bimbingan secara individu
Bimbingan individu ini dilaksanakan apabila jumlah siswa yang dibimbing sedikit atau yang bersifat pribadi, misalnya: les privat, pelajaran tambahan dan lain-lain. Bimbingan secara individu dibeakan menjadi beberapa teknik yaitu:
Directvie counseling yaitu: dengan mnerapkan prosedur atau teknik playanan konseling tertuju pada masalahnya, konselor yang membuka jalan pemecahan masalah.
Non-directive counseling, yaitu: dengan menerapkan prosedur bimbingan yang difokuskan pada anak. Adanya pelayanan bimbingan bukan pelayanan yang mengambil inisiatif, tetapi klien sendiri yang mengambil prakarsa, yang menentukan sendiri apakah ia membutuhkan pertolongan atau tidak.
Eklective counseling, yaitu: dengan menerapkan prosedur pelayanan tidak dipusatkan pada pembiming atau klien, tetapi masalah yang dihadapi itulah yang harus ditangani secara luwes, sehingga tenang apa yang dipergunakan setiap waktu dapat diubah kalau memang diperlukan.
Bimbingan secara kelompok
Bimbingan kelompok ini dilaksanakan apabila iswa yang dibimbing jumlahnya banyak. Misalnya: diskusi kelompok, belajar kelompok, kegiatan kelompok, dan lain-lain. Bimbingan secara kelompok ini memiliki beberapa jenis teknik antara lain:
a. Home room program
Kegiatan bimbingan dilakukan oleh guru bersama murid di dalam ruang kelas di luar jam pelajaran. Kegiatan home room dapat digunakan sebagai suatu cara dalam bimbingan belajar, melalua kegiatan ini pembimbing dan murid dapat berdiskusi tentang berbagai aspek tentang belajar.
b. Field trip
Dengan karya wisata murid-murid dapat mengenal dan mengamati secara langsung dari dekat  objek situasi yang menarik perhatiannya, dan hubungannya dengan pelajaran di sekolah.
c. Diskusi kelompok
Dalam diskusi kelompok sbaiknya dibentuk kelompok-kelompok kecil yang lebih kurang terdiri dari 4-5 orang. Murid-murid yang telah tergabung dalam kelompok-kelompok kecil itu mendiskusikan bersama sebagai permasalahan termasuk didalamnya permasalahan belajar.
d. Kegiatan bersama
Kegiatan bersama merupakan teknik bimbingan yang baik, karena dengan melakukan kegiatam bersama mendorong anak saling membantu sehingga relasi sosial positif dapat dikembangkan dengan baik.
e. Organisasi murid
Organisasi siswa dapat membantu dalam proses pembentukan anak, baik secara pribadi maupun secara sebagai anggota masyarakat.
f. Sosiodrama
Sosiodrama adalah suatu cara dalam bimbingan yang memberikan kesempatan pada murid-murid untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang. Maka dari itu sosiadrama dipergunakan dalam pemecahan-pemecahan masalah.
g. Papan bimbingan
Papan bimbingan berfungsi untuk menempelkan banyak hal yang berhubungan dengan pengumuman penting, peristiwa hangat, berita keluarga, tugas atau bahan latihan, berita daerah, berita pembangunan dan lain-lain.
h. Bimbingan secara klasikal

METODE YANG DIGUNAKAN DALAM BIMBINGAN KELOMPOK
Dalam bimbingan kelompok dapat menggunakanberbagai macam metode, antara lain:
1. Ceramah atau pemberian informasi.
Disini siswa diberi pengetahuan mengenai pentingnya belajar. Jadi dengan adanya pemberian informasi itu siswa diharaokan dapat termotivasi dalam belajarnya.
2. Pemberian tugas.
Dengan adanya tugas yang diberikan, siswa akan mempunyai rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas tersebut. Jadi secara tidak lang sung dengan sendirinya siswa akan termotivasi untuk belajar.
3. Tanya jawab.
Setelah proses pembelajar berlangsung, hendaknya guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahaminya.
4. Konseling inidividu atau kelompok.
5. Bimbingan kelompok belajar.
6. Belajar kooperatif.
Dengan belajar kooperatif iswa dapatmenggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya.
7. Diskusi.
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaki anar individu dalam kelompok untuk mempebaiki kesulitan belajar yang dialami oleh kelompok siswa.
8. Observasi atau pemantauan.

SASARAN YANG MENDAPATKAN BIMBINGAN BELAJAR.
Yang perlu mendapatkan bimbingan belajar yaitu seluruh siswa yang menunjukkan adanya gejala kesulitan atau masalah belajar dan siswa yang memiliki nilai dibawah rata-rata.

PELAKSANA
Guru bidang studi
Guru sebagai pembimbing dituntut untuk mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan instruksional, akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Dengan pendekatanm pribadi semacam ini guru akan secara langsung mengenal dan memahami murid-muridnya secara lebih mendalam sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru sebagai pembimbing sekaligus berperan sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar. Sebagai pembimbing dalam proses belajar mengajar, seorang guru diharapkan mampu untuk:
Memberikan informasi yang diperlukan dalam proses belajar.
Membantu setiap siswa dalam mengatasi setiap masalahpribadi yang dihadapinya.
Mengevaluasi hasil setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.
Memberikan setiap kesempatan yang memadai agar setiap murid dapat belajar sesuai denga karakteristik pribadinya.
Mengenal dan memahami setiap murid baik secara individual maupun secara kelompok.
Guru pembimbing konseling.
Wali kelas.
Biasanya wali kelas lebih memahami akan kemampuan siswanya dan wali kelasjuga memantau akan perkembangan kemampuan para siswanya.
Jadi apabila didalam kelas ersebut terdapat siswa yang mengalami kesulitan belajar, wali kelas dapat bekerjasama dengan guru bidang study ataupun konselor.
Kepala sekolah.

PROSEDUR PELAKSANAAN BIMBINGAN BELAJAR
Langkah-langkah yang ditempuh dalam bimbingan belajar adalah:
1. Identifikasi
Identifikasi adalah suatu kegiatan yang berupaya unutk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu sengan mencari informasi tentangsiswa meliputi:
  • Data dokumen hasil belajar siswa
  • Menganalisis absensi siswa didalam kelas.
  • Mengadakan wawancara dengan siswa.
  • Menyebar angket untuk memperoleh data tentang permasalahan belajar.
  • Tes untuk memperoleh data tentang kesulitan belajar atau permasalah yang sedang dihadapi.
2. Diagnosa
Diagnosis adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
  • Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar siswa ( berat atsu ringan).
  • Keputusan mengenai factor-faktor ysng menjadi sumber sebab-sebab kesulitan belajar.
  • Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang mengalami kesulitan belajar.
  • Kegiatan-kegiatan diagnosis adalah sebagai berikut:
  • Membandingkan nilai prestasi individu untuk setiap mata pelajaran dengan rata-rata nilai seluruh individu.
  • Membandingkan prestasi dengan potensi yang dimiliki oleh siswa tersebut.
  • Membandingkan nilai yang diperoleh dengan batas minimal tujuan yang diharapkan.
  • Kepribadian, misalnya: sering terlambat masuk  kelas, ketidak hadiran dalam kelas, sering membolos dan lain-lain. Sehinga dapat memungkinkan siswa mengalami kesulitan belajar.
3. Prognosis
Prognosis merupakan aktifitas penyusunan rencana atau programyang diharapkan dapat mmbantu mengatasi masalah kesulitan elajar anak didik. Prognosis dapat diatikan amalan apa yang elah diteapkan dalam tahap diagnosis yang akan menjadi dasar utama dalam menyusun dan menetapkan ramalan mengenai bantuan apa yang harus diberikan kepada siswa untuk membantu mengatasi masalahnya.
  • Dalam prognosis ini dapat berupa:
  • Bentuk treatmen yang harus diberikan.
  • Bahan atau materi yang diplukan.
  • Metode yan akan digunakan.
  • Alat Bantu belajar mengajar yang diperlukan.
  • Waktu kegiatan dilaksanakan.
  • Terapi atau pemberian bantuan
Terapi disini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan pogram yang telah disusun pada tahap prognosis tersebut.
Bentuk terapi yang dapat diberikan  antara lain melalui:
  • Bimbingan belajar kelompok
  • Bimbingan belajar individual
  • Pengajaran remedial
  • Pemberian bimbingan pribadi
  • Alih tangan kasus
  • Tindak lanjut atau  follow up yaitu suatu usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjutnya. Dalam kegiatanm tindak lanjut mendasarkan hasil evaluasi dan analisisnya.
HASIL YANG INGIN DICAPAI
1. Evaluasi
Evaluasi lebih menekankan penggunaan informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain untuk menentukan pendpat dan membuat kepoutusan-keputusan pendidikan. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.
Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut:
2. Tes Formatif
Penilaianini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untukmemperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan tersebut.
3. Tes Subsumatif
Tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran  tertentu yang telah diajarkan dalam waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran dauya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa.
4. Tes Sumatif
Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu semester, datua atau dua tahun pelajaran
5. Keberhasilan
Indikator Keberhasilan
Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal-hal berikut:
  • Daya serap terhadap bahan penbagjran yang diajarkan, mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  • Perilaku yang dagariskan dalam tujuan pengajaran Intruksional Khusus ( TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok .
  • Namun demikian indicator ang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.

Tingkat Keberhasilan
Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah yang dihadapi adalah sampai di timgkat mana prestasi ( hasil) belajar yang telah dicapai. Tingkat jkeberhasilan itu adalah sebagai berikut:
1. Istimewa/ Maksimal
Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa
2. Baik Sekali/ Optimal
Apabila sebagian besar ( 76 %-99%) bahan pelajaran yang diajarkan itu dapt dikuasai oleh siswa.
3. Baik Minimal
Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% - 75 % saja dikuasai oleh siswa.
4. Kurang
Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60 % dikuasai oleh siswa.
Dengan melihat dat yang terlihat dalam format daya serap siswa dalam pelajaran dan presentase keberhasilan siswa dalam mencapai TIK tersebut, dapatlah diketahui keberhasilan proses belajr mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru
Setelah memperoleh bimbingan belajar, diharapkan akan terjadinya perubahan pada diri siswa, seperti:
  • Peningkatan penguasaan materi pelajaran
  • Peningkatan prestasi siswa
  • Teratasinya masalah-masalah belajar
  • Terselesaikannya proses belajar secara tepat waktu.
Daftar Nama Bimbel
  • Primagama
  • Neutron
  • Quantum Brain
  • Nurul Fikri
  • BTA 70
  • Study Revenvic

Pengertian Bimbingan

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada murid dengan memperhatikan murid itu sebagai individu dan makhluk sosial, serta memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu agar murid itu dapat membuat tahap seoptimal mungkin dalam proses perkembangannya dan agar ia dapat menolong dirinya, menganalisa dan menemukan masalah-masalah temuannya itu demi memajukan kebahagiaan hidup terutama ditekankan pada kesejahteraan jiwa/mental.

Dari beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada individu atau kelompok siswa agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan yang dimilikinya maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggung jawab dalam menentukan jalan hidupnya atau memecahkan sendiri kesulitan yang dihadapi serta dapat memahami lingkungannya secara tepat sehingga dapat memperoleh kebahagiaan hidupnya.

Langkah-langkah bimbingan belajar:
1. Mengenal siswa yang mendapat kesulitan belajar dengan menggunakan norma atau ukuran kriteria tertentu.
2. Mencari sebab-sebab siswa mendapat kesulitan.
3. Mencari usaha untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan itu.
4. Mengadakan pencegahan supaya kesulitan yang dialami seseorang tidak menular kepada yang lain.

Jika permasalahan siswa tidak segera ditemukan solusinya, siswa akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar (S. Sucitae, 1972 : 2).
Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar adalah : 1) Identifikasi masalah siswa, 2) Diagnosa, 3) Prognosa, 4) Pemberian Bantuan, 5) Follow up (tindak lanjut).

1. Identifikasi Masalah Siswa
Identifkasi masalah siswa adalah untuk menentukan siswa yang mengalami kesulitan belajar yang sangat memerlukan bantuan. Langkah ini "sangat mendasar sekali" dan merupakan awal kegiatan bimbingan terhadap siswa yang bermasalah, untuk menentukan masalah yang dialaminya.

Dalam bimbingan belajar siswa, masalah yang terjadi dijaga kerahasiaannya. Dikandung maksud agar siswa yang mengalami permasalahan tidak terbebani, tidak ragu dan tanpa rasa takut mengungkapkan permasalahannya dengan jujur. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, instrumen.

2. Diagnosa
Diagnosa dilakukan dalam bimbingan belajar, diartikan sebagai rumusanrumusan masalah siswa, jenis kesulitan serta latar belakang kesulitan dalam pelajaran, serta kesulitan belajar atau masalah yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sehingga mempengaruhi belajarnya.

3. Prognosa
Prognosa merupakan kegiatan memperkirakan permasalahan, apabila siswa yang mengalami kesulitan belajar tidak segera mendapat bantuan. Bertujuan untuk menentukan bantuan yang dapat diberikan kepadanya.

4. Pemberian Bantuan
Bantuan yang diberikan dengan menggunakan pengarahan, motivasi, belajar. Cara mengatasi masalah kesulitan belajar melalui latihan-latihan dan tugas baik individu maupun kelompok, secara rutin.

5. Tindak Lanjut
Tindak lanjut kegiatan bimbingan belajar, untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan atau ketidakberhasilan, usaha-usaha memberikan bantuan pemecahan masalah yang telah diberikan.

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2053286-konsep-bimbingan-belajar/#ixzz1aRhJEXtL